Rabu, 01 Juni 2011

fenomena jabal magnet gunung kelud


Bukit magnet ternyata tidak hanya ada di dekat Madinah Arab Saudi, ada ratusan tempat di dunia ini yang memiliki fenomena seperti ini, walaupun dengan nama yang berbeda-beda, kadang mereka menyebutnya bukit gravitasi (gravity hill), bukit hantu (spook hill), atau jalan misteri (misteri/ spot). Lokasi aneh ini banyak terdapat di Amerika Serikat, Kanada, Australia, Asia, Amerika Latin, Eropa, bahkan Indonesia pun memiliki lokasi ajaib seperti ini, yaitu di jalan yang menuju objek wisata Gunung Kelud, tepatnya di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngan-car, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Umumnya, fenomena yang ditemui di bukit-bukit magnet tersebut ditandai dengan mobil yang bisa menggelinding sendiri ke arah tanjakan atau air yang mengalir ke tempat yang lebih tinggi.
Cerita-cerita mengenai jalan aneh yang seolah melawan hukum fisika ini, memang telah ada sejak tahun 1880-an. Fenomena ini sempat mengusik keingintahuan tiga wartawan surat kabar Saint John Telegraph Journal dari Kanada. Pada Agustus 1933, mereka berangkat ke Monoton, New Brunswick, Kanada, untuk menguji fenomena bukit magnet ini. Mereka berharap bisa mengungkap misteri di lokasi tersebut. Ketiga wartawan tersebut memang berhasil menemukan situs itu dan bisa merasakan mobilnya menggelinding di tanjakan, tetapi mereka tidak bisa menjawab apa penyebab misteri ini? Sejak artikelnya dipublikasikan di surat kabar, keberadaan bukit magnet ini kemudian ramai dibicarakan, dan mengundang keingintahuan orang-orang untuk mengunjungi dan merasakannya.
Di berbagai negara, fenomena ajaib ini dimanfaatkan menjadi lahan bisnis dalam dunia pariwisata. Para pemandu wisata pun tak segan-segan mengarang cerita-cerita sensasi, bahwa ada kekuatan alam atau kekuatan gaib yang sedang berlangsung di sana. Kadang, cerita tersebut dicampur dengan legenda-legenda setempat, atau dibumbui gosip yang rada-rada ilmiah, konon di bukit ini sedang terjadi kekacauan gravitasi Bumi.
Lalu apakah sebenarnya yang terjadi di bukit magnet tersebut? Benarkah mengandung magnet? Adakah penjelasan ilmiah yang melatarbelakangi fenomena alam ini?
Saat ini, paling tidak ada dua teori ilmiah yang dipercaya bisa menjelaskan rahasia di balik bukit magnet atau bukit gravitasi ini. Salah satu gagasan adalah yang menyatakan bahwa bukit atau gunung itu memang mengandung biji besi di dalamnya. Besi-besi ini bisa menjadi magnet, dan benar-benar akan menarik apa pun yang terbuat dari logam menuju ke pusatnya. Sayangnya, teori ini mengandung kelemahan karena tidak bisa menjelaskan mengapa air juga bisa mengalir menuju tanjakan, padahal air bukanlah logam.
Sementara itu, teori ilmiah yang saat ini banyak dianut dan cukup masuk akal adalah yang mengatakan bahwa fenomena ini hanyalah ilusi optis alias tipuan mata. Brock Weiss, ahli fisika materi dari Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat menjelaskan fenomena ini, seperti dilansir science-dailv.com edisi 1 Juni 2006.
Umumnya, semua misteri di lokasi-lokasi tersebut, menurut Weiss, jelas-jelas disebabkan terhalangnya cakrawala (horizon) yang membuat mata manusia kesulitan "menerjemahkan" lereng dari suatu permukaan. Mereka kehilangan titik pegangan yang benar, dan ini bisa mengacaukan reflek tubuh manusia terhadap keseimbangan, terutama jika lereng tersebut tidak curam.
Sepertinya ada distorsi dalam memandang perspektif dan sudut yang tidak normal, karena tata letak tanah di sekitarnya menghasilkan ilusi optik sehingga lereng yang sedikit menurun tampak sebagai lereng yang menanjak. "Fenomena bukit magnet ini tidak lebih dari ilusi optik yang membohongi mata dan otak manusia," ujar Weiss.
Mereka sebenarnya sedang berkendaraan di turunan bukan di tanjakan. Itulah sebabnya mobilnya bisa berjalan sendiri ke arah "tanjakan" yang sebenarnya adalah turunan. Pengukuran dengan GPS (global positioning system) pun memperlihatkan level di titik awal jalan lebih tinggi dari ujung jalan.
Bagaimana penjelasan ilmiah dari jalan misteri yang ada di Gunung Kelud, Jawa Timur,
apakah di sini juga terjadi karena ilusi optik? Ternyata, hasil penelitian Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya pada April 2007, menyatakan bahwa tidak terbukti adanya gaya magnet di jalan misteri sepanjang 200 meter tersebut. Bahkan, para ahli dari ITS itu dapat membuktikan bahwa jalan itu justru menurun dengan kemiringan 5 derajat. Mereka menyimpulkan, jalan misteri menuju lokasi wisa-ta Gunung Kelud ternyata hanya tipuan mata alias ilusi optik.
Diduga fenomena ilusi mata ini juga terjadi di Jabal Magnet (30 km dari Kota Madinah menuju arah Kota Tabuk, Arab Saudi). Penggal jalan itu sendiri sebenarnya memang menurun, tetapi kemiringannya kecil sekali. Ketika dilihat dari posisi jalan yang kemiringannya tinggi, 1 penggal jalan menurun itu terlihat seperti naik. Dari pengukuran GPS yang pernah dilakukan seseorang yang skeptis dengan keajaiban ini, tern)fata memang benar kendaraan berjalan menuju titik level terendah dari permukaan bumi terhadap permukaan air laut, dan kendaraan bisa mencapai kecepatan hingga 120 km/jam karena jalurnya panjang sehingga ada percepatan selama menempuh jalur tersebut. Secara aktual, jalur tersebut tidak menurun terus,
tetapi ada kondisi naik dan turunnya.
Ada satu pendapat dari ahli geologi yang bisa menjelaskan terjadinya ilusi optik pada bukit gravitasi. Mereka mengklaim, ilusi optik terjadi karena adanya rayapan tanah (soil creep) yang kerap ditandai dengan bentuk pepohonan yang miring akibat pemuaian tanah.
Ketika jalan itu miring, sedangkan pohon yang sering kita pergunakan sebagai "acuan vertikal" juga miring, maka ilusi optik akan terjadi. Bila arah kemiringan jalan sebenarnya ke arah kanan (sebelah kanan rendah) dan pepohonan miring dengan arah yang berlawanan dengan kemiringan jalan (miring ke kanan), maka pikiran kita akan "tertipu" oleh mata kita yang seolah-olah melihat kemiringan jalan ke arah kiri.
Pada ruas-ruas jalan tertentu gejala ini akan lebih mudah menipu mata kita, apalagi kalau kita sedang berada di sebuah tempat atau jalan panjang yang menanjak, tetapi ada ruas kecil yang menurun. Ketika mobil ada pada posisi di ruas jalan yang menurun ini, maka akan terasa seolah-olah mobil tetap menanjak karena kemiringan jalan sangat landai dan pepohonan menipu persepsi otak.

Sungai bawah laut Mexiko


Fenomena 'sungai' di dalam laut Mexico dikhawatirkan bisa membahayakan biota laut. Meski masih dalam penelitian, gas hidrogen sulfida (H2S) di 'sungai jadi-jadian' itu tidak membahayakan manusia.

"H2S itu bersifat asam, apabila bercampur dengan air laut atau garam yang terkandung dalam air laut, maka gas itu bisa berbahaya bagi biota laut, namun tidak berbahaya bagi manusia," kata Menristek Suharna Surapranata kepada VIVAnews.

Hal itu disampaikan Suharna Surapranata dalam pembukaan di The 4th GEOSS Asia – Pacific Symposium, Denpasar, Bali, Rabu 10 Maret 2010,

Kendati demikian, Suharna mengakui fenomena alam itu merupakan bagian dari vulkanologi atau studi tentang gunung berapi, lava, magma dan fenomena geologi yang berhubungan.

"Di Indonesia memang belum pernah terjadi, namun sangat mungkin fenomena itu terjadi karena hal itu merupakan fenomena alam, dan sejauh ini penelitian tentang sungai bawah laut belum selesai, dan masih melakukan pemetaan tematik," jelasnya.

Seperti diketahui, 'sungai' bawah laut yang terjadi di perairan perairan Cenote Angelita, Mexico, pada kedalaman 60 meter itu bukanlah sungai sebenarnya.

Warna kecoklatan seperti air sungai itu merupakan lapisan gas hidrogen sulfida. Namun warna kecoklatan itu bukan berasal dari air tawar.

Disebutkan, bagian kecoklatan yang mirip air sungai itu adalah lapisan bagian bawah gas hidrogen sulfide atau H2S. Gas yang biasanya dihasilkan dari saluran pembuangan kotoran.

Suasana dalam laut itu mirip sungai lengkap dengan lapisan seperti air yang berwarna agak kecoklatan. Ada pohon lengkap dengan dedaunan jatuh berguguran.

Gas Beracun Gunung Dieng Mengkhawatirkan


BANJARNEGARA – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengkhawatirkan gas beracun CO2 tidak hanya muncul dari Kawah Timbang, Gunung Dieng, tetapi juga dari rekahan akibat gempa.

“Oleh karena itu, kami berkoordinasi dengan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) untuk menambah dusun yang diungsikan, yakni Simbar dan Serang,” kata Kepala PVMBG, Surono, di Pos Pengamatan Gunung Api Dieng, Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Selasa.

Dengan meningkatnya energi gempa bumi yang sampai sekarang masih terjadi, kata dia, tekanan dari dalam tubuh Gunung Dieng akan semakin meningkat sehingga gas beracun tersebut dikhawatirkan tidak hanya keluar dari Kawah Timbang tetapi juga dari rekahan-rekahan di dua dusun itu.

Terkait hal itu, dia mengatakan, pihaknya pada Selasa dinihari, sekitar pukul 01.00 WIB, melakukan pengecekan terhadap jalur utama Batur-Wonosobo terhadap kemungkinan adanya gas beracun. “Dalam pengecekan tersebut, ternyata tidak dijumpai gas-gas berbahaya. Oleh karena itu, kami tidak menutup jalan itu,” katanya.

Disinggung mengenai konsentrasi gas CO2 yang dikeluarkan Kawah Timbang, dia mengatakan, sejak statusnya ditingkatkan menjadi waspada pada 23 Mei 2011 yang berlanjut menjadi siaga pada 29 Mei 2011, konsentrasi CO2 saat ini meningkat hingga 10 kali lipat.

Dalam hal ini, kata dia, konsentrasi pada awal status waspada masih mencapai 0,1 persen volume dan saat ini mencapai satu persen volume. “Tadi pagi, baru pertama kali dalam krisis Dieng ini terjadi hembusan (gas) berturut-turut mulai pukul 08.59 WIB, yang tadinya (konsentrasi) gas hanya tujuh kali lipat, langsung naik menjadi 10 kali lipat,” katanya.

Disinggung mengenai kemungkinan peningkatan aktivitas di Kawah Timbang akan berpengaruh terhadap kawah lainnya, dia mengatakan, hal itu kecil kemungkinan dapat terjadi. “Kalau gasnya bisa lewat dari Kawah Timbang, kenapa harus cari jalan (kawah) lain, kecuali kalau tersumbat,” katanya.

Jumat, 05 November 2010

Gunung merapi meletus lagi



Merapi meletus lagi jum'at 5-11-2010, Sebagian abu vulkanik yang menyebar di kecamatan Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, mengandung SI 02/silika. Bahan ini, menurut para relawan, mengandung bahan yang mirip dipakai pada industri kaca.
"Bahan ini merupakan glass hard yang sangat halus, tetapi jika dilihat dengan mikroskop, tepi dan ujungnya itu runcing," kata Goro Hendratmo, Koordinator Relawan Posko Van Lith, Muntilan.
Menurut Goro, abu vulkanik itu dapat merobek jaringan paru-paru jika terhirup oleh manusia. Selain itu, jika abu vulkanik berkontak langsung dengan mata dapat merusak kornea mata.Beliau juga menghimbau kepada relawan dan pengungsi di sini agar selalu pakai masker, kalau perlu kacamata karena ini abunya tidak baik untuk badan.
Saat ini kondisi di Muntilan, menurut Goro, sangat memprihatinkan. Ketebalan abu vulkanik di Muntilan mencapai 5 sentimeter. Pohon-pohon pun banyak yang tumbang karena tidak kuat menahan abu yang menghinggapi pohon.
kemungkinan sampai sebulan ke depan kondisi masih seperti ini. Sekarang semua sekolah sudah diliburkan juga.
Para pengungsi di Muntilan saat ini tersebar di banyak posko pengungsian. Pengungsi terbanyak berada di asrama sekolah Pangudi Luhur Van Lith, Muntilan, berjumlah lebih dari 1.000 jiwa.Pakai empat barak Van Lith. Selain di Van Lith, pengungsi ada juga di Ponpes Muhammadiyah, SMK Pangudi Luhur, Dinas Perikanan.

Rabu, 27 Oktober 2010

Ditemukan, Planet Mirip Bumi yang Layak Huni

VIVAnews - Hasil pengamatan observatorium MW Keck di Hawaii, Amerika Serikat, selama 11 tahun membuahkan hasil. Para ilmuwan menemukan sebuah planet yang paling mirip dengan Bumi. Planet itulah kemungkinan bisa dihuni manusia.

Seperti dilansir Telegraph.co.uk, 29 September 2010, sebuah tim 'pemburu planet' menamai planet yang paling mirip dengan Bumi itu dengan nama Gliese 581g.

Planet yang ukurannya hampir sama dengan Bumi itu mengorbit dan berada di tengah 'zona huni perbintangan'. Peneliti juga menemukan zat cair dapat eksis di permukaan planet itu.

Ini akan menjadi planet paling mirip Bumi yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Ini juga merupakan planet pertama yang paling berpotensi dihuni manusia.

"Temuan kami ini sangat menarik dan menawarkan kemungkinan bahwa planet ini berpotensi untuk dihuni," kata Profesor Steven Vogt di University of California.

Sebelumnya, Badan Antariksa AS (NASA) juga menemukan planet mirip bumi, Kepler 9.

Gliese 581g ditemukan berdasarkan observasi yang dilakukan menggunakan teknik tercanggih yang dikombinasikan dengan teleskop 'kuno'.

Yang paling menarik dari dua planet Gliese 581g adalah, dia memiliki massa tiga sampai empat kali dari Bumi dan periode orbit hanya di bawah 37 hari. Volume massa itu menunjukkan bahwa planet itu kemungkinan merupakan planet berbatu dengan permukaan tertentu. Itu juga menunjukkan bahwa planet itu memiliki gravitasi yang cukup.

Gliese 581g terletak dengan jarak 20 tahun cahaya dari Bumi, tepatnya berada di konstelasi Libra. Posisi planet ini, satu sisi selalu menghadap bintang dan memiliki suhu panas yang memungkinkan manusia untuk berjemur secara terus-menerus di siang hari. Di bagian samping yang menghadap jauh dari bintang, berada dalam kegelapan yang terus-menerus.

Para peneliti memperkirakan rata-rata suhu permukaan planet ini antara -24 dan 10 derajat Fahrenheit atau -31 sampai -12 derajat Celsius. Suhunya akan sangat terik saat posisinya menghadap bintang dan bisa terjadi pembekuan saat sedang gelap.

Menurut Profesor Vogt, gravitasi di permukaan planet itu hampir sama atau sedikit lebih tinggi dari Bumi, sehingga orang dapat dengan mudah berjalan tegak di planet ini.

"Faktanya, kami mampu mendeteksi planet ini begitu cepat dan sangat dekat. Ini memiliki arti bahwa planet seperti ini benar-benar berciri umum, seperti Bumi," jelasnya.

Prof Vogt dan Paul Butler, dari Carnegie Institution di Washington, mengatakan temuan-temuan baru tim itu dilaporkan dalam sebuah makalah yang akan diterbitkan dalam Jurnal Astrophysical.

GUNUNG BERAPI BAWAH LAUT INDONESIA



Menurut terjemahan bebas dari wikipedia, Sea Mount atau Gunung Laut adalah sebuah gunung yang naik dari dasar laut yang tidak sampai naik hingga permukaan air (permukaan laut), dan dengan demikian bukanlah juga sebuah pulau. Umumnya ditemukan terbentuk dari proses pembentukan gunung berapi dan muncul pada kedalaman mulai dari 1000-4000 meter dari kedalaman dasar laut. Setidaknya terdapat sebanyak 30.000 gunung laut yang tersebar di seluruh dunia, dan hanya beberapa saja yang telah dipelajari.

Umumnya Gunung Laut terisolasi dan berbentuk kerucut dan berasal dari proses vulkanik. Mempelajari secara khusus gunung laut sangatlah menarik, karena memuat beberapa alasan:

* Tingkat keanekaragaman hayati pada gunung laut (sea mount) sangat bervariasi dan beranekaragam, juga sebagai batu loncatan untuk penyebaran spesies pesisir.
* Bisa juga disebut sebagai lokasi yang sedang berproduksi tinggi yang sangan penting dalam mendukung aktifitas komersial dibidang pertambangan dan karang perikanan.
* Tetapi juga termasuk ekosistem yang rapuh, sehingga perlu dijaga dengan ketat terhadap upaya-upaya perusakan habitat.

Jenis Gunung Laut

Terdat pembagian beberapa jenis gunung laut, adalah:

* Gunung Laut (seamount), dengan ciri ketinggian lebih dari 1000 meter (1km) dari dasar laut.
* Bukit - dengan ketinggian kurang dari 1000 meter dari dasar laut
* Pinnacle - berbentuk pilar yang lebih kecil.

Sebaran dan Kelimpahan Gunung Laut di Dunia

Gunung laut, didunia dapat ditemukan pada semua cekungan di laut, dengan distribusi yang cukup bervariasi dalam ruang dan waktu, dan dapat ditemukan pada bagian kerak samudra. Hampir setengah dari gunung laut di dunia ditemukan pada Samudra Pasifik dan sisanya tersebar pada bagian Atlantik dan Samudera Hindia.

Menurut Encyclopedia of Earth, memperkirakan sebaran gunung laut di dunia berkisar 100.000 gunung laut yang memiliki ketinggian diatas 1000 meter, dan ribuan lainnya jika dihitung di bawah ketinggian 1000 meter. Perkiraan ini didasarkan dengan penggunaan satelit dengan memeriksa altimetry anomali gravitasi di bawah permukaan laut. Namun keterbatasan cara ini untuk memperkirakan yang kecil dan di kedalaman laut, sehingga masih terbatas untuk memperkirakan jumlah yang sebenarnya.
Gunung Berapi Bawah Laut di Indonesia

Belum banyak memang informasi dan data yang menyebutkan secara lengkap tentang gunung bawah laut di indonesia, menjadi prioritas menjadi pengamatan secara khusus adalah gunung berapinya, mengingat dampak yang disebabkan jika meletus. Lebih-lebih pada tahun-tahun ini Indonesia mengalami begitu banyak musibah yang disebabkan oleh bencana geologi.
Di perairan Sulawesi Utara yang dinyatakan masih aktif adalah Gunung Submarine yang berada di bawah laut sebelah barat Pulau Marore yang pernah meletus pada tahun 1922, juga Gunung Mahangetang (BanuaWalu) yang tidak jauh dari Pulau Mahangetang.

Selain itu, diperairan Banda ada Gunung Niuwewerker (1927) dan Emperor of China. Gunung Api bawah laut lainnya adalah Gunung Hobal (1999) di perairan Nusa Tenggara Timur, secara administratif gunung Hobal berada di Kecamatan Atedai, Kabupaten Flores bagian Timur, Nusa Tenggara Timur, Pulau Lembata (nama lain Pulau Lomblem)
Lebih Dekat dengan Gunung Api Bawah Laut

Dari beberapa penelitian dan survei kelautan, sebagian besar gunung api yang telah terdeteksi berada di kedalaman puluhan hingga ribuan kilometer sehingga hanya dapat diselami dengan bantuan alat berteknologi khusus. Di antara banyak gunung berapi terdapat dua gunung yang berada di perairan cukup dangkal.

Salah satunya di Pulau Mahengetang, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Banua Wuhu, demikian masyarakat setempat menyebut gunung itu, berada hanya 300 meter dari sisi barat daya Pulau Mahengetang. Titik kepundan gunung ditandai oleh keluarnya gelembung di antara

bebatuan di kedalaman 8 meter. Suhu air rata-rata di sana 37-38 derajat celsius.

Di sejumlah lubang, keluar air panas yang tampaknya mampu membuat tangan telanjang melepuh bila coba-coba merogoh ke dalamnya. Saya hanya sempat menyelam dua kali di sini. Pertama, karena terlalu sore, pasang telah naik dan arus cukup kuat. Keesokan harinya kami turun tepat saat arus mati, yaitu masa antara pergantian arus pasang dan surut. Saat itu kami dapat menjelajahi topografi Banua Wuhu berupa bukit dan lembah tumpukan bebatuan berukuran besar.

Kehidupan biota laut juga tak kalah menarik, koloni terumbu karang yang rapat dan sehat terhampar di kedalaman 10 meter hingga 20 meter. Konon terdapat lorong bawah laut yang tembus dua arah. Masyarakat setempat menyelenggarakan upacara tulude setiap akhir Januari. Dua minggu sebelum ritual tersebut, seorang tetua adat akan menyelam dengan membawa piring putih berisi emas ke lorong tersebut sebagai persembahan agar Banua Wuhu tidak murka.
Seamount, Si Gunung Raksasa dibawah laut (Proses Terbentuknya)


Melanjutkan dongeng sebelumnya tentang Seamount atau mudahnya disebut saja gunung laut. Gunung laut ini didunia ada lebih dari 30 000 gunung laut yang ada dibawah samodra. Namun kebanyakan gunung laut ini berupa gunung api yang sudah mati atau sudah tidak aktif lagi.
Terbentuknya Gunung Laut

Secara mudah gambar dibawah ini memperlihatkan bagaimana terbentuknya seamount atau gunung laut. Cara plaing mudah barangkali adalah dengan melihat proses tektonik lempeng (plate tectonic) seperti gambar paling atas itu.

Di Daerah pemekaran samodra terjadi proses keluarnya material dari mantel atas yang keluar seperti keluarnya gelembung air pada saat mendidih. Arus berputarnya ini disebut arus konveksi. Persis arus air ketika merebus air. Kalau merebus air yang keluar itu gelembung udara, tetapi ini yang keluar material dari lapisan mantel atas yang cair.

Yang berwarna merah-biru dibawah ini merupakan kerak samodra. Sedangkan yang hijau disebut kerak benua. Kerak samodra ini selalu bertambah atau bergerak karena ada pembentukan kerak baru pada zona pemekaran samodra.
1. Pada saat keluar tentusaja ada yang berukuran besar dan membentuk sebuah gunung api bawah laut.
2. Gunung api bawah laut ini terbentuk diatas kerak samodra dan terus terbawa oleh kerak samodra menuju zona penunjaman disebelah kanan.

3. Semakin jauh dari zona pemekaran, tentusaja material mantel yang cair dan panas ini kehilangan suhunya. sehingga membentuk seamount atau gunung laut yang seringkali berupa gundukan yang tidak lagi berupa gunung api yang aktif.
4. Ketika mendekati zona penunjaman tentusaja bagian atas dari kerak samodra ini akan bergesekan dengan kerak benua. Gesekan ini menimbulkan panas dan sering menyebabkan batuan pembentuk kerak samodra ini meleleh. Batuan yang meleleh dan cair ini akan keluar membentuk gunung api seperti yang kita lihat di rentetan Gunung Api sepanjang bagiam barat Sumatra, hingga bagian selatan Jawa. Termasuk Gunung Merapi, Semeru dan gunung api yang lain yang masih aktif.
Seamount (gunung laut) kebanyakan sudah tidak berupa gunung api aktif.
Karena biasanya gunung laut itu tidak lagi mendapatkan pasokan panas, maka materialnya tidak lagi berupa material cair panas seperti sumber dapur magma. Coba bandingkan dengan gunung api di sebelah kanan (pada pinggiran kerak benua) dimana terdapat pasokan material panas hasil gesekan antara kerak samodra dengan kerak benua.

Dengan demikian keberadaan gunung laut atau seamount ini tidak perlu ditakutkan berlebihan tetapi harus diperhatikan. Atau lebih tepatnya harus ditelaah dan diteliti, dan dimengerti. Hal ini bukan hanya karena kebencanaan, namun juga karena adanya ‘harta diseputar seamount ini !

Dimana saja Gunung laut (Seamount) disekitar Indonesia ?

Sebenernya banyak sekali seamount yang ada di sekitar Indonesia. Yang terkenal adalah yang berada disebelah selatan Jawa. Salah satu gunungnya ada yang muncul kepermukaan membentuk Pulau Krismas, atau Pulau Natal atau Christmas Island. Pulau ini sangat terkenal sebagai tujuan wisata. Daerah Pulau Natal ini memang tidak termasuk teritorial Indonesia, bahkan masuk Australia.

Pulau Natal atau Chrismas Island, merupakan sebuah kompleks gunung laut (seamount) yang sangat besar. Kompleks Gunung Laut ini memiliki arti khusus dalam proses alam baik keberagaman biologi maupun fisik.

Daerah dangkal dikelilingi lautan dalam ini sering merupakan daerah berkumpulnya ikan-ikan laut karena daerah ini seringkali ditumbuhi karang-karang karena airnya jernih, jauh dari populasi manusia sehingga jauh dari sampah dan polusi. Dengan demikian perlu penelitian khusus untuk mengetahui biodiversity (keberagaman hayati) di lingkungan kompleks gunung laut ini. Keberadaan biodiversity (keberagaman hayati) diseputar gunung laut ini ada harta berupa ikan dan karang yang harus dijaga lingkungannya.

Selain itu gunung laut ini bentuknya sangat tidak merata, sehingga ketika kerak samodra ini menabrak kerak benua, maka akan terjadi ganjalan. Nah ganjalan ini menjadikan proses gempa yang unik.

Gunung merapi meletus, mbah Marijan meninggal


Gunung Merapi Meletus

Asap putih sulfur keluar dari puncak Gunung Merapi, Jumat (22/10). Status Gunung Merapi dinaikkan menjadi siaga dari status sebelumnya waspada dikarenakan deformasi, gempa vulkanik, gas vulkaniknya mengalami peningkatan yang sangat signifikan sejak beberapa hari lalu.


TEMPO Interaktif, YOGYAKARTA - Gunung berapi aktif di Indonesia, Merapi meletus dengan mengeluarkan awan panas yang tercatat sejak pukul 17.02 WIB. " Sejak 17.02 WIB hingga 17.34 WIB terjadi empat kali awan panas dan sampai sekarang awan panas terus muncul susul menyusul tidak berhenti" kata Surono, Kepala Pisat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi di Yogyakarta, Selasa 26 Oktober 2010.

Menurut dia, munculnya awan panas tersebut menjadi tanda sebagai erupsi Gunung Merapi. Awan panas pertama yang muncul pada pukul 17.02 WIb mengarah ke barat. Namun awan panas yang berikutnya tidak dapat terpantau dengan baik karena kondisi cuaca di puncak Merapi cukup gelap dan hujan.

Sirine bahaya di Kaliurang, Sleman berbunyi pada pukul 17.57 WIB. Pada pukul 18.05 WIB Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta menarik semua petugas dari pos pengamatan.

" Pada 2006, awan panas terjadi selama tujuh menit. Namun pada tahun ini, awan panas sudah terjadi lebih dari 20 menit" katanya.

Lamanya awan panas tersebut, lanjut dia, menunjukkan energi yang cukup besar. Pada pukul 18.00 WIB terdengar letusan sebanyak tiga kali yang terdengar dari pos Jrakah dan pos Selo yang disusul dengan asap membumbung setinggi 1,5 kilometer mengarah ke selatan. " Tipe letusan Merapi dipastikan eksplosif" ujarnya.

Tsunami di mentawai Sumatra barat

Tsunami di Mentawai 25 Oktober 2010, 380 Orang Dilaporkan Hilang

TEMPO Interaktif, MENTAWAI - Korban gempa berkekuatan 7,2 skala richter di wilayah Sumatera Barat menyebabkan tsunami di kepulauan Mentawai terus bertambah. Menurut Ketua DPRD Mentawai Hendri Dori Satoko dia mendapat laporan dari lapangan, sebanyak 40 orang tewas dan 380 orang dinyatakan hilang. "Saat ini tim SAR masih mencari korban yang hilang," kata Satoko seperti dikutip Reuters.

Jumlah korban yang tewas maupun yang hilang masih simpang siur. Menurut Hardimansyah, pegawai Departemen Kelautan yang bertugas di sana, seluruh bangunan di desa Betu Monga, Mentawai hancur. "Sebanyak 200 orang tinggal di desa itu, 40 orang telah ditemukan sedangkan 160 orang hilang," kata Hardimansyah.

Selain di Malakopa, ada satu orang yang tewas dan dua lainnya hilang. Hardimansyah mengatakan sebanyak 80 persen rumah di daerah tersebut hancur sedangkan persediaan makanan sangat terbatas.

Salah seorang polisi setempat, Ronald mengatakan polisi telah membuat tenda-tenda darurat. "Para korban tsunami sangat butuh tempat untuk berteduh, mereka juga butuh makanan," ujarnya. "Saat ini curah hujan masih besar dan angin sangat kencang."

Gempa 7,2 skala Richter yang mengguncang Pulau Pagai Selatan di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, pukul 21:42:25 WIB Senin (25/10), ternyata menimbulkan tsunami, meski hanya 1 hingga 1,5 meter.

Sebelumnya, korban tewas akibat tsunami yang menerjang Pulau Pagai Selatan, Pulau Pagai Utara dan Pulau Sipora di Kepulauan Mentawai bertambah menjadi 31 orang. Data ini didapat dari Yayasan Citra Mandiri (YCM), NGO lokal yang memiliki jaringan di hampir semua dusun dan desa di Kepulauan Mentawai.

Direktur Eksekutif Yayasan Citra Mandiri Roberta Sarokdok mengatakan dari data yang dikumpulkan anggota YCM di Pulau Pagai Utara, Pulau Pagai Selatan dan Pulau Sipora 31 warga tewas dan 193 hilang, serta ratusan rumah hancur akibat hantaman tsunami. “Anggota kami di lapangan mengumpulkan data ini, warga tewas dan hilang karena terkena tsunami,” kata Roberta.

Kamis, 19 Agustus 2010

Sebuah Pulau Es Raksasa Mengancam

STOCKHOLM, KOMPAS.com — Sebuah pulau es seluas 260 km2, lima kali luas Jakarta Pusat, yang lepas dari gletser Petermann, Greenland, melintasi Lautan Arctic, Rabu (11/8/2010). Bisa dibayangkan, apabila seluruh es Greenland mencair, bisa menaikkan permukaan air dunia 6 meter. Jakarta Utara bisa tenggelam jika permukaan laut naik 2-3 meter.

Pulau es yang sedang "berenang" di Lautan Arctic itu segera memasuki tempat terpencil yang disebut Selat Nares, sekitar 620 km selatan Kutub Utara, yang memisahkan Greenland dan Pulau Ellsemere, Kanada. Dalam skenario terburuk, bongkahan es raksasa itu bisa saja mencapai perairan yang ramai dilalui kapal di mana bongkahan es Greenland serupa pada tahun 1912 menghancurkan Titanic.

"Pulau es itu sangat besar sehingga mustahil bisa menghentikannya," kata Hon-Ove Methie Hagen, glasiologis dari Universitas Oslo.

Jika pulau es setebal Empire State Building di New York ini memasuki Selat Nares sebelum beku musim dingin (bulan depan), lintas kapal di sekitar Kanada akan terusik. Dan, jika bongkahan es raksasa itu mengalir ke selatan akibat didorong arus, lalu mencapai pantai timur Kanada, perairan yang sibuk, pengiriman minyak dari Newfoundland akan terganggu.

Pulau es itu amat berbahaya bagi anjungan minyak Grand Banks di lepas pantai Newfoundland, Kanada. "Dari sanalah bisa menjadi titik awal bencana besar," kata Mark Drinkwater dari Badan Antariksa Eropa.

Daya dorong pulau es itu sangat kuat, dapat menyapu anjungan minyak lepas pantai serta kapal-kapal yang ada di depannya. Benturan yang ditimbulkannya pun dapat menyebabkan kerusakan parah. Jika es itu mencair, berpotensi menaikkan permukaan laut global setinggi 20 kaki atau 6 meter!

Pulau es itu pertama kali terlihat lewat satelit oleh seorang peramal es dari Kanada, Tudy Wohllenben, Kamis (5/8/2010). Debit air segar jika es itu meleleh bisa memasok kebutuhan air bagi seluruh warga Amerika Serikat selama 120 hari atau empat bulan.

Canadian Ice Service memperkirakan, laju bongkahan es itu memakan waktu satu atau dua tahun mencapai pesisir timur Kanada. Kemungkinan juga akan pecah menjadi potongan-potongan kecil akibat menabrak gunung es dan pulau-pulau karang. Bongkahan-bongkahan itu juga akan roboh atau mencair akibat angin dan gelombang. "Tapi bongkahan hasil pecahan itu terbilang cukup besar," kata Trudy Wohllenben.

Reuters melaporkan, peristiwa lepasnya pulau es dari gletser Petermann, Kutub Utara, ini merupakan fenomena alam terbesar dalam kurun 28 tahun. Terakhir terjadi pada tahun 1962 ketika Ward Hunt Ice Shelf, Greendland, membentuk sebuah pulau.

Para ilmuwan Amerika Serikat mengatakan, sulit mengklaim robohnya bongkahan es raksasa itu akibat pemanasan global sebab rekaman tentang air laut di sekitar gletser itu tersimpan sejak 2003. Aliran air laut di bawah gletser menjadi penyebab utama lepasnya pulau es dari Petermann, Greenland

Penemuan Bayi Matahari di Tata Surya Kita



Teleskop Herschel milik Badan Luar Angkasa Eropa (The European Space Agency/ ESA) menangkap embrio bintang baru di tata surya kita, para peneliti dunia menyebutnya sebagai Matahari baru.

Menurut laman stasiun televisi BBC, 6 Mei 2010, citra gelembung gas yang disebut RCW 120 itu dirilis beberapa hari menjelang peringatan satu tahun peluncuran teleskop Herschel ke orbit. ESA meluncurkan teleskop Herschel pada 14 Mei 2009. Detektor inframerah milik Herschel mampu melihat materi bersuhu rendah yang bisa melahirkan bintang. Citra seperti RCW 120 akan membantu menjelaskan bagaimana proses sebuah bintang raksasa terbentuk.

Calon bintang raksasa dalam citra teleskop tersebut tampak seperti sebuah gumpalan putih di tepi bawah gelembung. Ukuran Matahari baru tersebut akan lebih besar dari Matahari saat ini. Embrio itu diperkirakan bisa tumbuh menjadi salah satu bintang terbesar dan yang paling cerah di galaksi dalam ratusan ribu tahun mendatang

Para peneliti mensinyalir calon bintang besar ini memiliki massa sekitar delapan hingga sepuluh kali lebih besar dibanding massa Matahari, dan dikelilingi begitu banyak material. Jika ada banyak gas dan debu berjatuhan di embrio bintang baru tersebut maka objek baru luar angkasa ini mempunyai potensi untuk menjadi salah satu objek raksasa dalam Galaksi Bima Sakti.

Peneliti juga mengatakan, jika saja ini terjadi maka kehadiran dari bintang baru pesaing dari matahari tersebut dapat mempengaruhi keadaan lingkungan sekitar.

Ilmuwan Herschel, Dr. Annie Zavagno, dari Laboratoire d’Astrophysique de Marseille menyatakan, “Ini merupakan bintang besar yang mengontrol evolusi kimia dan kedinamisan galaksi”.

Dia menambahkan, “Ini merupakan bintang besar yang menciptakan elemen berat seperti besi dan elemen-elemen tersebut akan berada di ruang antar bintang. Dan karena bintang-bintang besar mengakhiri hidup mereka dengan ledakan supernova, mereka juga menyuntikkan energi besar ke galaksi.”

Embrio bintang baru cikal bakal bayi matahari ini bisa terbentuk dengan sempurna menjadi seperti matahari dengan jarak waktu sekitar 100 tahun lagi. Wah gak kebayang kalau ada dua matahari di tata surya kita, bagaimana panasnya?

Sabtu, 07 Agustus 2010

Indonesia terkena tsunami matahari 2013


“Pada 2012 hingga 2015 bintik matahari diperkirakan mencapai titik yang sangat banyak dan itu akan memicu banyak ledakan,” ujar Dra Clara Yono Yatini, MSc, Kepala Bidang Aplikasi Geomagnet dan Magnet Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), di sela-sela sosialisasi fenomena cuaca antariksa 2012-2015 di Denpasar, Bali.
Namun, menurutnya, masyarakat tidak perlu khawatir karena badai matahari tidak akan menghancurkan peradaban dunia. “Dampak badai matahari hanya merusak sistem teknologi saja,” tegas Clara Yono.

Dampak badai matahari 2013 cuma sistem teknologi yang terpengaruh, misalnya, rusaknya satelit sehingga mengganggu jaringan komunikasi. Dampak lainnya dari badai matahari ini juga dapat mengganggu medan magnet bumi. Seperti tahun 1989 saat badai matahari menyerang Kanada, jelas Clara, terjadi pemadaman listrik karena trafo di pusat jaringan listrik terbakar akibat arus yang sangat besar di bawah permukaan bumi.

Badai matahari ini dapat diantisipasi agar tidak menimbulkan kerusakan, seperti mematikan sementara jaringan satelit dan jaringan listrik pada saat terjadi badai matahari.

Selain itu efek akibat aktivitas puncak matahari ini menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Suhu bumi akan meningkat dan iklim berubah. Partikel-partikel matahari yang menembus lapisan atmosfer bumi akan mempengaruhi cuaca dan iklim bumi. Dampak yang paling ekstrim menyebabkan kemarau panjang. “Ini yang masih dikaji para peneliti,” ujar Clara.

Selain itu, Indonesia akan mendapat dampak paling parah akibat badai matahari ini, karena lapisan ozon disekitar Indonesia yang paling tipis