Sebelum kalian belajar tentang materi IPS kelas 9. Coba kerjakan asesmen berikut ini:
Link Asesmen diagnostik Awal bab I
Link Asesmen diagnostik akhir bab I
Sebelum kalian belajar tentang materi IPS kelas 9. Coba kerjakan asesmen berikut ini:
Link Asesmen diagnostik Awal bab I
Link Asesmen diagnostik akhir bab I
Masa reformasi di Indonesia adalah masa setelah berakhirnya
pemerintahan Orde Baru. Masa reformasi dimulai pada tanggal 21 Mei 1988 saat
Presiden Soeharto mengundurkan diri dan digantikan oleh Wakil Presiden B.J. Habibie.
Masa reformasi terus berlanjut hingga saat ini.
1. LAHIRNYA GERAKAN REFORMASI
Reformasi merupakan suatu
gerakan yang menghendaki adanya perubahan kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara ke arah yang lebih baik secara konstitusional. Munculnya
keinginan untuk melakukan perubahan itu muncul disebabkan oleh dampak negatif
dari kebijakan-kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah Orde Baru. Pada masa
Orde Baru pemerintah berhasil mewujudkan kemajuan pembangunan yang pesat. Namun
kemajuan pembangunan itu ternyata tidak merata. Kebijakan pemerintah Orde Baru
yang terlalu memfokuskan pertumbuhan ekonomi ternyata menjadi pemicu
terbentuknya mentalitas dan budaya korupsi di kalangan para pejabat di Indonesia.
Selain itu, pelaksanaan kebijakan
politik yang cenderung otoriter dan sentralistik tidak memberikan ruang
demokrasi dan kebebasan rakyat untuk berpartisipasi penuh dalam proses pembangunan.
Dampak-dampak negatif inilah yang kemudian mendorong munculnya keinginan rakyat
Indonesia untuk melakukan perubahan. Demonstrasi-demonstrasi mahasiswa berskala
besar terjadi di seluruh Indonesia. Tuntutan mahasiswa dalam aksi-aksinya
adalah penurunan harga sembako (sembilan bahan pokok), penghapusan monopoli,
kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) serta
menuntut Presiden Soeharto turun dari jabatannya.
Akhirnya Pada tanggal 21 Mei
1998, Presiden Soeharto menyatakan mengundurkan diri sebagai presiden dan
menyerahkan jabatan presiden kepada wakilnya B.J. Habibie. Peristiwa
pengunduran diri Presiden Soeharto ini menandai berakhirnya masa pemerintahan
Orde Baru selama 32 tahun dan dimulainya masa Reformasi.
2. PERKEMBANGAN POLITIK
a. Sidang Istimewa MPR 1998
Pada
tanggal 10-13 November 1998, MPR mengadakan Sidang Istimewa untuk menentapkan
langkah pemerintah dalam melaksanakan reformasi di segala bidang. Dalam Sidang
Istimewa MPR 1998 terjadi perombakan besar-besaran terhadap sistem hukum dan
perundang-undangan.
b. Otonomi Daerah
Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom
untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan
c. Pencabutan Pembatasan Partai Politik
Dengan adanya kebebasan untuk mendirikan partai politik, pada
pertengahan bulan Oktober 1998 sudah tercatat sebanyak 80 partai politik
dibentuk. Menjelang Pemilihan Umum tahun 1999, partai politik yang terdaftar
mencapai 141 partai
d. Penghapusan Dwi Fungsi ABRI
Pada masa reformasi Dwi Fungsi ABRI dihapuskan secara bertahap sehingga
ABRI berkonsentrasi pada fungsi pertahanan dan keamanan.
e. Penyelenggaraan Pemilu
Sejak dimulainya masa reformasi hingga tahun 2015, pemerintah
telah melaksanakan empat kali pemilihan umam, yaitu pemilu tahun 1999, 2004,
2009, 2014 dan 2018. Berbeda dengan pemilu-pemilu pada masa Orde Baru yang hanya
diikuti oleh tiga partai politik, pemilu pada masa reformasi diikuti oleh banyak
partai politik. Meskipun diikuti oleh banyak partai politik, pemilu pada masa
reformasi berlangsung aman dan tertib.
3. PERKEMBANGAN EKONOMI
a. B.J. Habibie
Pada masa pemerintahan B.J
Habibie ditetapkan kebijakan pokok di bidang ekonomi, yaitu penanggulangan
krisis ekonomi dengan sasaran terkendalinya nilai rupiah dan tersedianya kebutuhan
bahan pokok dan obat-obatan dengan harga terjangkau serta berputarnya roda
perekonomian nasional, dan pelaksanaan reformasi ekonomi.
b. Abdurrahman Wahid
Pada masa ini, kondisi ekonomi
Indonesia mulai menunjukkan adanya perbaikan dan kondisi keuangan sudah mulai
stabil. Namun,keadaan kembali merosot. Melemahnya nilai tukar rupiah tersebut
berdampak negatif terhadap perekonomian nasional dan menghambat usaha pemulihan
ekonomi.
c. Megawati Soekarnoputri
Pada masa ini, nilai tukar
rupiah terhadap dolar Amerika berhasil distabilkan dan berdampak pada
terkendalinya harga-harga barang. Selain itu tingkat inflasi rendah dan
cadangan devisa negara stabil. Namun, pertumbuhan ekonomi masih tergolong rendah
yang disebabkan kurang menariknya perekonomian Indonesia bagi investor dan
karena tingginya suku bunga deposito.
d. Susilo Bambang Yudhoyono
Perekonomian Indonesia mengalami
perkembangan yang cukup baik pada masa kepemimpinan Presiden Soesilo Bambang
Yudhoyono. Hal ini terlihat dari rata-rata pertumbuhan ekonomi yang berkisar
pada 5% sampai 6% per tahun serta kemampuan ekonomi Indonesia yang bertahan
dari pengaruh krisis ekonomi dan finansial yang terjadi di zona Eropa sepanjang
tahun 2008 hingga 2009.
4. KEHIDUPAN MASYARAKAT INDONESIA PADA MASA REFORMASI
a. Kehidupan Sosial
Pada masa reformasi masyarakat
lebih bebas menyuarakan berbagai aspirasinya. Hal ini didukung dengan adanya reformasi
di bidang komunikasi. Media massa seperti surat kabar, majalah dan lainnya
dapat menyalurkan aspirasi dan gagasan secara bebas. Dicabutnya ketetapan untuk
meminta Surat Izin Terbit (SIT) bagi media massa cetak, sehingga media massa
cetak tidak lagi khawatir dibredel melalui mekanisme pencabutan Surat
Izin Terbit
b. Pendidikan
Sesuai dengan agenda reformasi
bidang pendidikan, terutama masalah kurikulum yang harus ditinjau paling sedikit
lima tahunan, Pemerintah pada masa Reformasi melakukan beberapa kali perubahan
kurikulum. Kurikulum tersebut adalah sebagai berikut :
1) Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
2) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
3) Kurikulum 2013
c. Kebudayaan
Dalam bidang kebudayaan
dilakukan upaya pelestarian budaya dengan mendaftarkan warisan budaya Indonesia
ke United Nations Educational, Scientific, and Cultural Oganization (UNESCO)
atau Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Upaya ini dilakukan untuk menghindari klaim negara lain terhadap warisan budaya
Indonesia.
Orde Baru
adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Suharto di Indonesia. Lahirnya
Orde Baru diawali dengan dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret 1966. Masa
orde baru berlangsung dari tahun 1966 sampai tahun 1998.
1. PERKEMBANGAN POLITIK
a. Supersemar
Pada tanggal 12 Januari 1966 pelajar, mahasiswa, dan masyarakat mengajukan
Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) Isi Tritura tersebut, yaitu:
1) Bubarkan PKI.
2) Bersihkan Kabinet Dwikora dari unsur-unsur Gerakan 30
September.
3) Turunkan harga.
Guna memulihkan keamanan negara,
pada tanggal 11 Maret 1966 Presiden Soekarno mengeluarkan surat perintah kepada
Letjen Soeharto untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu dalam
rangka memulihkan keamanan dan kewibawaan pemerintah. Surat itu dikenal sebagai
Surat Perintah 11 Maret, atau SP 11 Maret, atau Supersemar. Isi Supersemar
adalah pemberian mandat kepada Letjen. Soeharto selaku Panglima Angkatan Darat dan
Pangkopkamtib untuk memulihkan keadaan dan kewibawaan pemerintah. Keluarnya
Supersemar dianggap sebagai tonggak lahirnya Orde Baru.
b. Penataan Stabilitas Politik
Pada
tanggal 12 Maret 1967 Sidang Istimewa MPRS menetapkan Letjen Soeharto sebagai
pejabat presiden. Dengan dikukuhkannya Letjen Soeharto sebagai presiden,
Indonesia memasuki masa kepemimpinan yang baru, yaitu masa Orde Baru.
Langkah-langkah yang dilakukan Soeharto untuk penataan stabilitas politik
antara lain adalah :
1). Pemulihan Politik Luar Negeri Indonesia Bebas
Aktif
2). Pemulihan Hubungan dengan Malaysia
3). Kembali Menjadi Anggota PBB
4). Ikut Memprakarsai Pembentukan ASEAN
c. Penyederhanaan Partai Poitik
Pada masa Orde Baru, pemerintah
melakukan penyederhanaan dan penggabungan (fusi) partai-partai politik menjadi
tiga kekuatan sosial politik. Tiga kekuatan sosial politik itu adalah sebagai
berikut.
1) Partai Persatuan Pembangunan
(PPP) yang merupakan gabungan dari NU, Parmusi, PSII, dan Perti.
2) Partai Demokrasi Indonesia
(PDI) yang merupakan gabungan dari PNI, Partai Katolik, Partai Murba, IPKI, dan
Parkindo
3) Golongan Karya (Golkar)
d. Pemilihan Umum
Selama
masa Orde Baru, pemerintah berhasil melaksanakan enam kali pemilihan umum,
yaitu tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Dalam setiap Pemilu yang
diselenggarakan selama masa pemerintahan Orde Baru, Golkar selalu memperoleh
mayoritas suara dan memenangkan Pemilu.
e. Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4)
Pada tanggal 12 April 1976, Presiden Soeharto mengemukakan
gagasan mengenai pedoman untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila yang terkenal
dengan nama Eka Prasetia Pancakarsa untuk mendukung pelaksanaan
Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Oleh karena itu, sejak tahun
1978 pemerintah menyelenggarakan penataran P4 pada semua lapisan masyarakat.
Penataran P4 ini bertujuan membentuk pemahaman
yang sama terhadap Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
f. Dwifungsi ABRI
Dwi Fungsi ABRI maksudnya adalah bahwa ABRI memiliki dua fungsi,
yaitu fungsi sebagai pusat kekuatan militer yang melindungi segenap bangsa Indonesia,
dan fungsi sebagai kekuatan sosial yang secara aktif melaksanakan kegiatan-kegiatan
pembangunan nasional.
2. PERKEMBANGAN EKONOMI
Pada masa Orde Baru dalam
melaksanakan program ekonomi, pemerintah menetapkan kebijakan ekonomi jangka
pendek dan jangka panjang.
a.
Program Jangka Pendek
Program jangka pendek dalam rangka penyelamatan ekonomi nasional
diwujudkan dengan stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi. Stabilisasi yang dimaksud
adalah pengendalian inflasi supaya harga-harga tidak melonjak terus secara
cepat. Rehabilitasi yang dimaksud adalah rehabilitasi fisik terhadap
prasaranaprasarana dan alat-alat produksi yang banyak mengalami kerusakan
b.
Program Jangka Panjang
Program jangka panjang yang dilaksanakan oleh pemerintah Orde
Baru diwujudkan dengan pelaksanaan rencana pembangunan jangka panjang (25 tahun).
Pembangunan jangka panjang dilakukan secara periodik lima tahunan yang disebut
Pelita (Pembangunan Lima Tahun).
Banyak sekali pembangunan yang berhasil dilakukan oleh Soeharto pada masa ini,
sehingga beliau mendapat julukan sebagai “Bapak
Pembangunan Nasional”.
3. KEHIDUPAN MASYARAKAT INDONESIA PADA MASA ORDE BARU
a. Kehidupan
Sosial
Pada masa Orde Baru, pemerintah
berhasil mewujudkan stabilitas politik dan menciptakan suasana aman bagi
masyarakat Indonesia Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari penurunan angka
kemiskinan, penurunan angka kematian bayi, dan peningkatan partisipasi pendidikan
dasar. Program-program untuk perbaikan kesejahteraan rakyat yang dilaksanakan
pada masa Orde Baru antara lain adalah sebagai berikut ;
-
Transmigrasi adalah suatu program yang dibuat oleh
pemerintah Indonesia untuk memindahkan penduduk dari suatu daerah yang padat
penduduk ke daerah lain di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
-
Keluarga Berencana (KB) merupakan
program pemerintah yang dirancang untuk menyeimbangkan antara kebutuhan dan
jumlah penduduk
-
Puskesmas dan Posyandu
merupakan dua fasilitias kesehatan yang didirikan oleh pemerintah untuk
meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat.
b. Pendidikan
Dalam rangka memberikan kesempatan belajar yang lebih luas,
pemerintah Orde Baru melaksanakan program-program berikut.
1) Instruksi Presiden (Inpres) Pendidikan Dasar. Adanya
Instruksi Presiden ini membuat jumlah sekolah dasar meningkat pesat. Tercatat
pada periode 1993/1994 hampir 150.000 unit SD Inpres telah dibangun.
2) Program Pemberantasan Buta Huruf yang dimulai pada tanggal 16
Agustus 1978
3) Program Wajib Belajar yang dimulai pada tanggal 2 Mei 1984
4) Program Gerakan Orang Tua Asuh (GNOTA).
c. Kebudayaan
Pada masa Orde baru, usaha peningkatan dan pengembangan seni dan
budaya diarahkan kepada upaya memperkuat kepribadian, kebanggaan, dan kesatuan
nasional. Oleh karena itu, dilakukan pembinaan dan pengembangan seni secara
luas melalui sekolah seni, kursus seni, organisasi seni dan wadah-wadah kegiatan
seni lainnya. Selain itu, dilakukan pula upaya penyelamatan, pemeliharaan, dan
penelitian warisan sejarah budaya nasional. Upaya ini diwujudkan dengan
menginventarisasi peninggalan purbakala yang meliputi 1165 situs purbakala dan
rehabilitasi serta perluasan museum.
Sumber :
Masa Demokrasi Terpimpin adalah masa ketika Indonesia menerapkan suatu sistem
pemerintahan dengan seluruh keputusan pemerintah berpusat pada kepala negara.
Pada saat itu, jabatan kepala negara dijabat oleh Presiden Soekarno. Masa
Demokrasi Termimpin berlangsung sejak dikeluarkannya Dekrit
Presiden 5 Juli 1959 sampai tahun 1965.
1. PERKEMBANGAN POLITIK
a. Dekrit Presiden 5 Juli 1959
Dengan
dikeluarkannya Dekrit Presiden, berakhirlah masa Demokrasi Parlementer dan
digantikan dengan Demokrasi Terpimpin.
Isinya adalah sebagai berikut;
1)
Menetapkan pembubaran Konstituante.
2)
Menetapkan UUD 1945 berlaku bagi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia, terhitung mulai tanggal penetapan dekrit dan tidak berlakunya
lagi UUD Sementara (UUDS).
3) Pembentukan
MPRS, yang terdiri atas anggota DPR ditambah dengan utusan-utusan dan golongan,
serta pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS).
b.
Penyimpangan
terhadap UUDS
Pelaksanaan Demokrasi Terpimpin
bertujuan untuk menata kembali kehidupan politik dan pemerintahan yang tidak
stabil. Namun pada perkembangannya, pada masa Demokrasi Terpimpin justru
terjadi penyimpangan terhadap UUD 1945. Bentuk-bentuk penyimpangan tersebut
antara lain sebagai berikut :
1)
Presiden menunjuk dan mengangkat anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat
Sementara (MPRS).
2) Presiden membubarkan Dewan
Permusyawaratan Rakyat (DPR) hasil Pemilu 1955 dan menggantinya dengan Dewan
Permusyawaratan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR).
3) Pengangkatan presiden seumur
hidup
c. Kekuatan Politik Nasional
Pada masa Demokrasi Terpimpin
kekuatan politik terpusat antara tiga kekuatan politik, yaitu: Presiden
Soekarno, Partai Komunis Indonesia (PKI), dan TNI Angkatan Darat.
d. Politik Luar Negeri
Berdasarkan UUD 1945, politik
luar negeri yang dianut Indonesia adalah politik luar negeri bebas aktif. Bebas
artinya tidak memihak kepada salah satu blok yang ada, yaitu blok barat dan
blok timur. Namun pada masa Demokrasi Terpimpin, Politik luar negeri Indonesia
condong ke blok timur. Indonesia banyak melakukan kerja sama dengan negara-negara
komunis seperti Uni Soviet, China, Kamboja, Vietnam, dan Korea Utara.
e. Peristiwa G 30 S/PKI 1965
Peristiwa Gerakan 30
September/PKI terjadi pada malam tanggal 30 September 1965. Dalam peristiwa tersebut,
sekelompok militer di bawah pimpinan Letkol Untung melakukan penculikan dan
pembunuhan terhadap enam perwira tinggi TNI Angkatan Darat serta memasukkan
jenazah mereka ke dalam sumur tua di daerah Lubang Buaya, Jakarta. Setelah
melakukan pembunuhan itu, kelompok tersebut menguasai dua sarana komunikasi penting,
yaitu Radio Republik Indonesia (RRI) di jalan Merdeka Barat dan
Kantor Telekomunikasi yang terletak di Jalan Merdeka Selatan. Pada
tahun 1965, PKI adalah kekuatan politik terbesar Indonesia dan partai komunis
terbesar kedua di dunia di luar Blok Timur. Berdasarkan kalkulasi politik, PKI
tidak akan kesulitan melakukan kudeta di Indonesia. Namun, berkat pertolongan Tuhan
Yang Maha Esa, pemberontakan komunis di Indonesia dapat digagalkan.
2. PERKEMBANGAN EKONOMI
Presiden Soekarno mempraktikkan
sistem ekonomi terpimpin dengan terjun langsung mengatur perekonomian. Langkah-langkah
yang diambil pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi antara lain adalah
sebagai berikut;
a.
Pembentukan Dewan Perancang Nasional
(Depernas)
Tugas dewan ini adalah menyiapkan rancangan undang-undang
pembangunan nasional yang berencana serta menilai pelaksanaan pembangunan
tersebut. Dewan ini diketuai oleh Mohammad Yamin dengan 50 orang anggota.
b.
Devaluasi Mata Uang Rupiah
Tujuan kebijakan devaluasi dan pembekuan simpanan ini adalah
untuk mengurangi banyaknya uang yang beredar demi kepentingan perbaikan
keuangan dan perekonomian negara.
c.
Deklarasi Ekonomi
Tujuan utama Dekon adalah untuk menciptakan ekonomi nasional yang
bersifat demokratis dan bebas dari imperialisme untuk mencapai kemajuan
ekonomi.
3. KEHIDUPAN MASYARAKAT INDONESIA PADA MASA DEMOKRASI
TERPIMPIN
a. Kehidupan Sosial
Ajaran Nasakom (Nasionalis-Agama- Komunis) yang diciptakan Presiden
Soekarno sangat menguntungkan PKI dan membuat kedudukannya di Indonesia semakin
kuat. Melalui Nasakom PKI berupaya agar seluruh aspek kehidupan masyarakat
termasuk bidang sosial, pendidikan dan seni budaya berada di bawah dominasi
politiknya. Kampus dijadikan sebagai sarana politik, mahasiswa yang tidak ikut
dianggap sebagai lawan.
b. Pendidikan
Pendidikan
pada masa Demokrasi Terpimpin berkembang cukup pesat, banyak lulusan SMP dan
SMA yang ingin melanjutkan ke Universitas. Untuk
memenuhi keinginan tersebut didirikan Institut Agama Islam Negeri (IAIN).
Adapun untuk murid-murid yang beragama Kristen Protestan dan Katholik didirikan
Sekolah Tinggi Theologia dan seminari-seminari. Selanjutnya, didirikan pula
perguruan tinggi-perguruan tinggi Islam, Kristen dan Katholik, seperti
Universitas Islam Indonesia, Universitas Kristen Indonesia serta Universitas
Katholik Atmajaya. Tercatat pada tahun 1961 telah berdiri sebanyak 181 buah
perguruan tinggi.
c. Kebudayaan
Dalam bidang seni muncul berbagai lembaga seni yang dibangun
oleh partai politik, seperti Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) milik PKI, Lembaga
Kesenian Nasional milik Partai Nasional Indonesia, Lembaga seni-Budaya Muslimin
Indonesia (Lesbumi) milik Nahdhatul Ulama, dan Himpunan Budayawan Islam milik
Masyumi.
Sumber :
https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id/rpp/indonesia-masa-demokrasi-terpimpin/
Masa
Demokrasi Parlementer adalah masa ketika pemerintah Indonesia menggunakan UUDS
1950 (Undang-Undang Dasar Sementara) sebagai undang-undang negara. Masa
Demokrasi Parlementer disebut pula masa Demokrasi Liberal karena sistem politik
dan ekonomi yang berlaku menggunakan prinsip-prinsip liberal. Masa ini
berlangsung mulai 17 Agustus 1950 sampai 6 Juli 1959.
1. PERKEMBANGAN POLITIK
Pada masa Demokrasi Parlementer undang-undang yang digunakan sebagai landasan hukum negara adalah UUD Sementara 1950. Sistem pemerintahan negara menurut UUD Sementara 1950 adalah sistem parlementer. Artinya Kabinet disusun menurut perimbangan kekuatan kepartaian dalam parlemen. Presiden hanya merupakan lambang kesatuan saja. Dalam sistem ini parlemen sangat berkuasa. Apabila kabinet dipandang tidak mampu menjalankan tugas, maka parlemen segera membubarkannya Sistem parlementer disebut juga sebagai sistem Demokrasi Liberal. Masa Demokrasi Parlementer di Indonesia memiliki ciri banyaknya partai politik yang saling berebut pengaruh untuk memegang tampuk kekuasaan. Hal tersebut menyebabkan seringnya pergantian kabinet.
Pada masa Demokrasi Parlementer ini
diadakanlah PEMILU PERTAMA di Indonesia setelah merdeka. Pada tahun 1955 diselenggarakan pemilihan umum (Pemilu) pertama
di Indonesia. Pemilu pertama ini merupakan tonggak demokrasi pertama di Indonesia.
Keberhasilan penyelenggaraan Pemilu tahun 1955 menandakan telah berjalannya
demokrasi di kalangan rakyat. Rakyat telah menggunakan hak pilihnya untuk
memilih wakil-wakil mereka. Banyak kalangan yang menilai bahwa Pemilu 1955
merupakan Pemilu paling demokratis yang dilaksanakan di Indonesia. Pada Pemilu
pertama ini 39 juta rakyat Indonesia memberikan suara. Pemilihan umum 1955
dilaksanakan dalam 2 tahap.
Tahap
pertama dilaksanakan pada 29 September 1955 dan tahap kedua pada 15 Desember 1955.
Pemilu tahap pertama adalah untuk memilih anggota DPR yang berjumlah 250 orang.
Perolehan suara terbanyak pada Pemilu ini dimenangkan oleh empat partai
politik, yaitu PNI, Masyumi, NU, dan PKI. Pemilu tahap kedua adalah untuk
memilih anggota Dewan Konstituante yang akan bertugas untuk membuat
Undang-undang Dasar yang tetap, untuk menggantikan UUD Sementara 1950. Anggota
DPR hasil Pemilu 1955 dilantik pada 20 Maret 1956, sedangkan pelantikan anggota
Konstituante dilaksanakan pada 10 November 1956.
Setelah
Pemilu usai dilaksanakan, politik Indonesia belum membaik malah justru terjadi
pergantian kabinet. Hal ini menyebakan munculnya berbagai pergolakan di
berbagai daerah. Dalam perkembangannya, pergolakan-pergolakan itu mengarah pada
gerakan pemberontakan yang berniat memisahkan diri dari Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Berikut
ini beberapa gerakan pemberontakan yang terjadi pada masa Demokrasi Parlementer:
1.
Pemberontakan Angkatan
Perang Ratu Adil (APRA)
2.
Pemberontakan Republik
Maluku Selatan (RMS)
3. Pemberontakan Andi Aziz
4. Pemberontakan PRRI dan Permesta
2. PERKEMBANGAN EKONOMI
Pada masa
Demokrasi Parlementer, bangsa Indonesia menghadapi permasalahan ekonomi.
Permasalahan yang dihadapi pemerintah Indonesia pada saat itu mencakup
permasalahan jangka pendek dan permasalahan jangka panjang. Permasalahan jangka
pendek yang dihadapi pemerintah Indonesia saat itu adalah tingginya jumlah mata
uang yang beredar dan meningkatnya biaya hidup. Permasalahan jangka panjang
yang dihadapi pemerintah adalah pertambahan jumlah penduduk dan tingkat
kesejahteraan yang rendah. Untuk memperbaiki kondisi ekonomi, pemerintah melakukan
berbagai upaya, antara lain adalah sebagai berikut :
a. 1. Gunting Syafruddin
b. 2. Sistem
ekonomi gerakan benteng
c. 3. Nasionalisasi perusahaan asing
4. . Finansial ekonomi
5. Rencana pembangunan lima tahun
3. KEHIDUPAN MASYARAKAT INDONESIA PADA MASA DEMOKRASI
PARLEMENTER
a. Kehidupan Sosial
Kehidupan
sosial masyarakat Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer banyak dipengaruhi
oleh gejolak politik dan permasalahan ekonomi. Gejolak politik menyebabkan
munculnya gangguan kemanan di berbagai tempat, dan upaya perbaikan ekonomi yang
tidak berjalan lancar menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan dan
pengangguran.
b. Pendidikan
Pada tahun 1950, diadakan
pengalihan masalah pendidikan dari Pemerintah Belanda kepada Pemerintah RIS
(Republik Indonesia Serikat). Kemudian, disusunlah suatu konsepsi pendidikan
yang dititikberatkan kepada spesialisasi sebab menurut Menteri Pendidikan pada
saat itu, bangsa Indonesia sangat tertinggal dalam pengetahuan teknik yang
sangat dibutuhkan oleh dunia modern. Pada masa Demokrasi Parlementer didirikan
beberapa universitas baru di antaranya adalah Universitas Andalas di Padang,
Universitas Sumatra Utara di Medan, Universitas Indonesia di Jakarta, Universitas
Padjajaran di Bandung, Universitas Airlangga di Surabaya, dan Universitas
Hasanuddin di Makassar
c. Kesenian
Dalam bidang kesenian, muncul
berbagai organisasi seni lukis, seperti organisasi Pelukis Indonesia (PI) dan
Gabungan Pelukis Indonesia (GPI). Selain itu, berdiri pula Akademi Seni Rupa
Indonesia (ASRI) di Yogyakarta.
Sumber :
https://www.youtube.com/watch?v=vcwCYpbzB-A